Kenapa sih, nggak merhatiin detil2 nya?

1,2,3,4,5
Sudah lima hari kebijakan tarif progresif diberlakukan,
Yeah, Sangat menyenangkan mendengar kabar penggunaan tarif progresif utk jalur kereta jabodetabek akhirnya direalisasikan,
Tapi apakah benar kabar ini menggembirakan banget seperti yang dibayangkan banyak orang?
Let see,
Hari pertama- 01 Juli 2013,
Well,,sistem baru, ternyata tidak diimbangi dengan kesigapan petugas ticketing,
Antrian dimana-mana,
Mesin macet,
Dan masih terjadi gangguan kereta ekonomi di Lenteng Agung,
Tapi, bagaimanapun seperti hari pertama untuk ‘sesuatu yang baru’ lainnya,
Meski penumpang mengeluh,
Mereka maklum.
Toh, harga sudah turun.
Hari kedua – 02 Juli 2013
Penumpang masih terlihat menumpuk di stasiun2 ketika pukul 7.20 pagi, padahal, biasanya jam segitu udah sepi.atau stasiun udah lengang, cz para pekerja udh dikereta, atau sudah sampai kantor mereka dipusat kota.
Kok Tumbennnn?
Rupanya kebijakan 
“kereta tidak akan diberangkatkan apabila pintu diganjal, demi keamanan dan keselamatan penumpang “
Membuat kereta dapat bertahan disebuah stasiun sampai bermenit-menit,
Jika depok – kota kurang lebih ada 17 stasiun, dan tiap stasiun berhenti 5 menit, bisa dibayangkan ngaretnya hampir satu jam lebih,
Waktu tempuh yang seharusnya.maksimal cuma 40 menit,
Molor menjadi satu jam lebih…
Menyebalkan memang,
Amat SANGAT MENYEBALKAN
Tapi kita lihat maksud dan tujuannya sekali lagi,
Well, kebijakannya sih baik,
Mungkin inilah kesempatan PT. KAI, untuk mendidik penumpang untuk berlaku tertib, demi keamanan dan keselamatan mereka, tanpa perlu menggunakan kekerasan..
Gw lumayan setuju dgn kebijakan ini, dan sekaligus juga penasaran ingin melihat, 
“klo kapasitas penumpang sudah lebih, lalu solusi apa lagi yg ditawarkan PT KAI utk membuat penumpangnya tertib?”

Kemudian gw teringat bahwa ada wacana2 untuk menambah gerbong…

Kapan kira2 hal tersebut diberlakukan?
Hari ketiga – 03 Juli 2013
Masih sama, seperti dua hari sebelumnya.
Hanya gw baca kabar selentingan di The Jakarta Post, klo ada karyawan PT.KAI yg terluka di salah satu stasiun saat sedang berusaha menertibkan area sekitar stasiun,
Well,
Sudah resiko kan,
Ibaratnya klo mw perang harus siap berdarah…
gw rasa luka yang didapat oleh salah satu karyawan itu, nggak sebanding dengan  kecemasan, kebingungan dan kegelisahan ratusan pedagang yang mereka tertibkan dari puluhan stasiun.
Ya,,, tapi tiap tindakan pasti ada resikonya kan ?
 
Hari ke empat – 04 Juli 2013
Kebetulan hari itu gw nggak menggunakan commuter,
Kejadiannya sekitar pukul 21.20 WIB
Dan lokasi rumah gw yang persis berada di gang seberang Universitas Pancasila membuat gw harus melintasi stasiun, agar cepat sampai ke seberang jalan..,
Tapi,
Ketika gw melenggang untuk menyebrang, tiba2 petugas security di stasiun Pancasila bertanya,
 “mau kemana mbak?”
Me : ” nyebrang “
Petugas : “emmm,, begini mbak, sekarang kan ada kebijakan, kalau selain penumpang, dilarang melintas Di stasiun, mbak mau lewat ya?”
Me : gw yg udah lelah , sebenarnya pengen jawab, tadi-kan-gw-udah-bilang-mw-nyebrang,,
tapi berhubung lagi malas ngajak berantem orang, gw jawab, “ya, saya cuma mw lewat”
Petugas : bengong sebentar, lalu melambaikan tangannya, memberi kode untuk mengikuti. “mbak tau di ujung stasiun ini?, ( gw ngangguk ), disitu ada jalan khusus untuk pejalan kaki, jadi besok2 klo mbak cuma lewat, silahkan mbak lewat sebelah sana.
Gw manggut2 denger penjelasan dari dia, terus nyahut,
” Oke. Terus, skrg kan saya sudah terlanjur disini, dan nggak ada sosialisasi sebelumnya klo untuk sekedar melintas tidak diperbolehkan, jadi untuk sekarang bagaimana?”
Petugas ngelihat gw, gw ngelihat dia balik, dia mikir, dan akhirnya dengan agak berat hati, dia menjawab, “Yah,,,karena sekarang sudah malam, boleh deh…”
Dan gw pun melenggang nyebrang, tapi disisi lain peron stasiun, petugas menghadang dan bertanya lagi, “mbak, mau kemana?”
Gw pengen jawab, ya-ampun-ini-petugas-nggak-lihat-apa-tadi-temennya-sudah-nanya
Tapi gw jawab, “Mau lewat Pak,,”
Dan untungnya nggak diceramahin lagi, tapi pas gw udah deket portal,  si petugas teriak, ” tapi besok2 …” Dan sebelum petugas selesai ngomong, gw mengacungkan ibu jari tanda gw mengerti. Dan ga lupa bilang terimakasih karena sudah diperbolehkan lewat.
Pertanyaannya adalah, kenapa mereka nggak sosialisasiin ini dengan penempelan poster atau APA,
Ya klo gw yg masih muda yg lewat, seandainya pun dilarang,gw masih kuat untuk putar balik,
Klo ibu2 sudah tua?
Deket stasiun itu udah ada zebra cross dan ‘pelambat laju kendaraan’ karena memang disitulah jalur untuk nyebrang,
Kalau stasiun nggak memperbolehkan penduduk sekitar menyebrang disitu, seharusnya dibuatkan lagi dong, zebracross yang lain, jadi penyebrang jalan juga nggak disalahkan klo nyebrang nggak lewat zebracross…
Atau minimal disediakan jalur melintas yang layak,
Ini udah sok tertib,
jalan yg disediakan buat ‘sekedar melintas’ bener2 nggak layak buat jalan, cz paginya salah satu tetangga gw ‘curhat’ soal jalan yg diperbolehkan di dekat stasiun UP, yang gelap, becek, rusak,
Atau bisa dibilang, lebih layak untuk jalanan kambing, daripada jalanan manusia..
Benar2 mengecewakan, klo PT sebesar KAI, nggak nyiapin planning untuk hal2 sepele kayak gini..
Dihari ke empat, menurut gw, manajement stasiun dan jajarannya nggak ada bagus2nya…
Cuma nurunin harga tanpa diikuti dukungan mutu..
Kesel,
Kapan sih, perusahaan Indonesia mau belajar untuk memperhatikan detil?
Kapan sih, perusahaan Indonesia bisa mikir nggak cuma buat kebijakan tapi juga mikirin bagaimana kebijakan itu harusnya berjalan, bagaimana dampaknya ke lingkungan sekitar, bagaimana tiap kemungkinan bisa terjadi disetiap langkah dan APA antisipasinya?
Apa yg dilakukan management.KAI, or management stasiun Ini sama kayak orang bikin trotoar, tapi nggak mikir saluran air ditaroh dimana, atau penghijauannya dimana, dan akhirnya jadi banyak genangan air dimana-mana. Banjir, musibah.
Kapan Jakarta bisa buat sesuatu yang nggak harus dirombak bolak – balik,
Dan ngabisin banyak dana?
Iya, memang, membuat sesuatu itu nggak semudah membalik telapak tangan,
Tapi HELLO,,,,,
Klo itu alasannya, mau sampai tahun 2039 juga Jakarta nggak bakal bisa jadi kota yg Tata kotanya baik, terintegrasi, ramah buat pejalan kaki de el el sebagainya..
Well, yeah…
Gw rasa pengamatan gw cukup sampai hari keempat ini dulu,
Semoga besok2 nggak ada lagi hal2 yang menyebalkan..
Dan gw doain juga semoga perkeretaapian jabodetabek makin bagus lagi kedepannya, dari segi armada, pelayanan, dan bisa lebih peka ke lingkungan sekitar..
Aamiin…
-ayudevi_wiharjo-
Advertisements
This entry was published on July 5, 2013 at 1:12 pm and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: