Generasi Matic

Mereka datang,
Meminta,
Kutinggalkan meja meski layarku penuh dengan olahan data,
Bangun dari dudukku,
Menaiki tangga ke ruang arsip,
Kutelusuri rak mencari apa yang mereka pinta,
Ku usahakan segera, menyediakan waktu untuk memenuhinya.
Meski aku sadar, yang datang padaku bukanlah seseorang yang berkuasa.

Namun,
Ketika aku datang, dan bertanya,
Dengan santai mereka berkata,
“Besok saja tanyanya, sekarang kami tak bisa”.
Dan tanpa rasa, mereka kembali sibuk terpekur pada layar kecil digenggaman mereka yang seolah akan mengurangi nyawa jika terlalu lama tak menatapnya. Seolah mereka orang yang paling penting di dunia, dan waktu mereka akan terbuang percuma untuk permintaan yang mereka anggap sepele dan sederhana.

Aku bertanya, apa mereka manusia?

Ditempat berbeda,
Mereka yang lain datang padaku untuk bertanya,
Ku carikan sumber untuk membantu mereka, kubantu dengan bertanya pada beberapa sumber agar mereka mendapat yang mereka butuhkan, kuberi jawaban sesuai dengan kemampuanku, ditambah dengan pengetahuan dari hasil komunikasiku dengan kenalan.

Saat itu, Mereka senang. Aku senang.

Namun, suatu kali aku bertanya,
Tanpa mengalihkan pandangan dari apapun yg ada dihadapan mereka, dengan mudahnya mereka berkata, “googling saja,,,”
Lalu seolah tak berarti apa-apa,
Mereka kembali sibuk dengan dunianya.

Saat itu, aku tersenyum, aku tetap senang.

Ya,
Aku tersenyum, menyadari bahwa mereka sama. Dan aku berbeda.

Lalu bergemalah sebuah Tanya,
Apa aku harus meniru mereka?

Meniru mereka yang tak punya waktu,

Meniru mereka yang begitu mudahnya mengabaikan orang-orang yang membutuhkan bantuan dan jawaban,

Meniru mereka yang menganggap komunikasi hanyalah saat mereka membutuhkan sesuatu, selebihnya kalau itu-tak-menguntungkanku, tak perlu ada komunikasi itu. Cepat-pergi-dan-enyahlah-dari-sini

Dan senyumku melebar menjadi tawa.

Tentu saja tidak.
Aku tidak perlu meniru mereka.
Aku tidak perlu memperlakukan mereka seperti mereka memperlakukan aku.

Dunia sudah cukup menyedihkan dengan generasi matic,
Generasi yang menganggap semuanya akan selesai dengan cara berkomunikasi bersama mbah google, tante Wiki, tanpa perlu mengkroscek kebenarannya di dunia nyata bernama realita. Tanpa perlu mengagumi bagaimana seseorang manusia di dunia nyata bisa mengeluarkan ide dari kepala, mengeluarkannya dengan kata-kata, dan melihat reaksi seseorang ketika mereka diterima ataupun ditolak melalui kata-kata juga.

Generasi menyedihkan yang tak peka pada indahnya aneka rasa sebagai manusia. Lupa pada kodrat mereka sebagai mahluk sosial,
Bermutasi menjadi mahluk penuhi-kebutuhanku-dan-pergilah

Generasi yang lupa bahwa dunia nyata itu dinamis, bukan sistem komputerisasi yang pasti dan monoton.

Generasi Matic, generasi robot berwujud manusia, tanpa rasa.

Advertisements
This entry was published on March 8, 2014 at 7:18 am. It’s filed under Uncategorized and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: