Ayudevi Story :

Forgiveness

Zara sedang asyik membereskan barang-barang dikamarnya. Hari ini adalah hari terakhirnya dirumah lama, karena besok Ia pindah kerumah barunya di daerah Bogor. Sedih memang, dirumah ini Ia tumbuh besar, dari SD, Kuliah, hingga pertama kali mendapat pekerjaan, semuanya ia dapatkan ketika masih menghuni rumah ini. Mungkin jika dinding rumahnya bisa berbicara, takkan habis cerita tentang kelakuan Zara kecil hingga beranjak dewasa. Zara yg suka baca diatas genteng, zara yang suka manjat pohon mangga di halaman rumah, Zara yg nangis waktu kelincinya mati. Zara yg suka ketiduran di sofa demi mengejar dateline skripsi dan lain sebagainya.

Zara membawa kardus kosong ke kamar, ia menatap lemari bukunya. Bergumam sendiri, kapan terakhir kali ia benar-benar membaca buku ? Deretan novel, komik, dan buku-buku favoritnya seolah menggoda untuk dijamah kembali. Ia menarik novel Tere Liye yang belum selesai di baca sejak tahun kemarin, kesibukkan kerja membuatnya kesulitan meluangkan waktu untuk duduk sambil menikmati lembar demi lembar halaman-halaman novel dari pengarang favoritnya. Namun rupanya novel itu menempel dengan sesuatu yang lain, agendanya tahun 2013. Jatuh kelantai kamarnya dengan halaman terbuka ditengah-tengah.

Zara jongkok untuk mengambil agendanya, sepintas ia membaca tulisan yg tertera disana, tersenyum-senyum sendiri melihat tulisannya masa remaja. Ya Allah… Selabil inikah gw dulu? 😆😆😅

Ujung-ujungnya bukannya beberes, Zara malah asyik membaca agenda lamanya, lamat-lamat terdengar suara merdu Raisa, 

Ku terjebak,

Diruang nostalgia~~

Dan sampailah Zara pada halaman itu, halaman agendanya dimana sebuah notes pada tabel kalender yang dicorat-coretnya dengan kasar dan penuh amarah 4 tahun yang lalu. Hari dimana ia mengira hidupnya tak akan berjalan dengan sama lagi, hari dimana pandangannya tentang dunia berubah, hari dimana Ia pertama kalinya ia begitu kecewa dengan Tuhan, dan mulai menutup diri dari dunia. Menarik diri dari semua teman-temannya. 

***

Namanya Ibrahim, anak laki-laki yg pertama kali membuat Zara jatuh cinta ketika masih remaja. Masa dimana semua orang begitu bebas dan ringan permasalahan hidupnya, tapi begitu berat buat Zara.

Usaha Ayah Zara gagal total, dan Zara tak bisa sehedon teman-temannya kala itu. Meski demikian Ayah selalu memberikan yg terbaik buat Zara, itulah sebabnya Zara remaja menjadi lebih peka ketika melihat Ayahnya bekerja keras untuk mengembalikan keadaan keluarganya seperti semula.

Zara remaja sudah mengerti benar bahwa hidup butuh perjuangan, disaat teman-teman lainnya sedang asyik menikmati masa remaja tanpa kekhawatiran, atau merasa sungkan minta orangtua mereka jika ingin sepatu baru, baju baru, atau Handphone terbaru. Maka Zara remaja sudah mampu berpikir bahwa kesemuanya itu harusnya tak perlu membebani orangtuanya. Dengan sabar ia belajar menahan diri jika ia membutuhkan sesuatu, selama yg lama bisa dipakai, ia akan bertahan dengan itu.

Satu-satunya hal yg tidak Zara tahan adalah ketika kedua orangtuanya bertengkar, karena masalah finansial. Sungguh, Zara tak habis mengerti bagaimana kedua manusia yg sudah berjanji untuk sehidup semati dan menanggung susah – senang bersama bisa begitu mudahnya melontarkan kata-kata kasar dan melemparkan kesalahan hanya karena keadaan tak lagi sama. Bukankah diawal pernikahan sudah ada komitmen yg mereka setujui bersama?

Kehidupan Zara remaja yang pas-pasan dan kondisi orangtuanya yg tak selalu harmonis, membuat Zara menjadi lebih dewasa dan peka pemikirannya dibandingkan bocah remaja lainnya. Hal itulah yg membuat Zara langsung luluh ketika Ibrahim menyatakan perasaannya pada Zara, Ibrahim punya latar keluarga yg kurang lebih sama, namun bedanya, kondisi finansial keluarga Ibrahim tak seburuk keluarga Zara, sehingga meskipun keduanya merasa muak dengan situasi dirumah, Ibrahim masih bisa menghabiskan waktunya diluar dengan jalan-jalan dan bermain PS di tempat rental. Tempat pelarian terbaik dan teraman menurut Ibrahim kala itu.

” Jadi kali ini mereka gak datang? Keterlaluan… Ntar gw klaim nilainya buat kita berdua aja …” Ujar Zara pada Ibrahim ketika mereka duduk diberanda rumah. Kebetulan ada tugas kelompok dikelas yang harus dikumpulkan minggu itu, bukan kali ini saja mereka berdua sekelompok, dan anak-anak yang lain sepertinya tahu kalau tugas mereka dikerjakan oleh kedua anak remaja ini, pasti akan lebih cepat selesai meskipun mereka tak hadir. Zara ngegerundel tak karuan, sementara Ibrahim cuek saja mengerjakan bagiannya. 

” Tapi ada mereka juga gak ngaruh sih, mereka pasti cuma ketawa-ketiwi ngobrol gak karuan… ” Gumam Zara lagi sambil terus menatap layar laptop Ibra. Ibra yang mengerjakan bagiannya di komputer PC melirik Zara  sejenak.” Kayaknya lo butuh istirahat deh, ngomel muluk daritadi, ada jus noh dikulkas..” Sahut Ibrahim dengan gaya cueknya. Zara tak bergeming, ia sedang serius merangkai presentasi kelompok. Hingga tiba-tiba pipinya ditempeli segelas jus dingin oleh Ibra. Plus sebungkus snack.

 ” Thanks Bro, btw dikit lagi selesai nih bagian gw…” Zara menerima gelas jus dan meletakkannya didekat laptop .

” Rekor nih Za, sejam udah mau kelar, biasanya ampe abis maghrib juga gak kelar-kelar…” Ibra nyengir. Zara mengangguk tanpa suara. Ibra diem duduk disebelah Zara, entah kenapa Zara semakin hari terlihat semakin manis. ” Btw, abis ini temenin gw jalan yok Zar..” Ragu suara Ibrahim mengajak Zara pergi. 

Zara menoleh, sejujurnya ia ingin pergi, tapi Zara kan bokek, nanti klo keluar duit gimana? Akhirnya Zara menggeleng. 

” Ga ah, bokek gw Bro… Emang lo mau jalan kemana deh? ”

“Tenang Sis, biar bos yg mikirin, sister mah tinggal nemenin aje ye…” Sahut Ibra sambil menepuk-nepuk dadanya bangga. 

***

” Kira-kira, klo lo jatuh cinta sama seseorang, bakalan tahan berapa lama ? ” tanya Zara random pada suatu hari pada Ibra. Kali ini Ibra mengajaknya ke sebuah taman bermain yang cukup terkenal di pinggiran utara Ibukota.

” Kayaknya bakalan selamanya, ” Jawab Ibra kalem, ia menatap Zara. 

” Ahahhaa, yakin amat lo? Emang udah tau orang yang lo cinta itu kayak gimana? ” Ujar Zara tanpa menyadari gerak – gerik Ibra. 

” Klo orangnya kayak elo gw sih yakin Zar…” Ibra menyahut dengan mantap. 

Kening Zara berkerut. ” Well, yes… i fall in love with you Zar, ” Ujar Ibra, membuang tatapan wajahnya segera dari wajah Zara usai mengutarakan perasaannya.

Pipi Zara terasa panas. Malu, tapi hatinya entah mengapa terasa begitu senang.

” Selamanya? ” tanya Zara

” Selamanya. ” jawab Ibra mantap.

***

” Terserah kamu lah Zar, aku udah capek kita begini terus, kamu pikir aku gak sakit dengan semua ini? ” Ibra meledak. Ber tahun tahun setelah Ibra dan Zara jadian, inilah perdebatan paling besar antara Ibra dan Zara. 

” Mungkin emang kita gak bisa terusin ini semua Za… Mungkin emang Aku harus mundur…” Ibra menyerah. 

Zara diam. Air matanya sudah tumpah sejak tadi. Ia tahu ia tak bisa memaksa Ibra untuk tetap bersamanya. Dan hubungan ini nggak akan bisa kemana-mana. Tanpa restu dari kedua orangtuanya.

Ibra mendekap Zara perlahan. 

” Maaf Za… Maaf aku gak bisa perjuangin kamu lagi…

Maaf….”

Mereka berdua menangis bersama untuk pertama dan terakhir kalinya hari itu.

***

” Nduk, kok masih belum dirapihin bukunya? ” Suara Ibu membuyarkan lamunan Zara.

Zara mengusap mukanya tanpa menoleh, ia tak ingin Ibunya tahu kalau ia baru saja meneteskan air mata.

” Ya Bu, cepet kok beresin ini, sebentar juga selesai…”

” Yasudah, Ibu tunggu di meja makan ya, kita makan bareng nduk, Ibu udah masak sayur bening kesukaanmu…” 

Zara mengangguk perlahan.

Tak lama kemudian. Semua buku Zara telah masuk kedalam kardus. 

Agenda lama Zara masih tergeletak dilantai.

Zara menarik nafas dalam-dalam. Sudah 4 tahun sejak Ibra meminta maaf padanya. Namun Zara masih saja sedih jika ia mengingat kembali semuanya seperti saat ini. 

Zara bisa mengatasi amarah dan kecewanya pada kedua orangtuanya yg tak memberikan restu saat itu. Namun entah kenapa Zara tak pernah bisa mengerti kenapa Ibra menyerah setelah sekian lama bertahan. 

Kenapa bukannya memperjuangkannya?

Apakah dirinya tak layak untuk diperjuangkan lebih?

Zara membawa agenda lamanya ke tempat pembakaran sampah di halaman belakang. 

Ayahnya sedang sibuk membakar semua barang tak terpakai disana. 

Yah, meskipun Ayah Ibu Zara sering bertengkar, mereka tetap bertahan untuk bersama hingga Zara lulus kuliah dan bekerja. Sampai sekarang Zara mampu membeli rumah baru untuk mereka sekeluarga. Mereka berjuang dan bertahan untuk tetap bersama.

Zara melempar agenda lamanya kedalam api tanpa ragu sedikitpun.

Setelah bertahun-tahun, akhirnya Zara memutuskan untuk memaafkan Ibra.

-Jakarta, 11 Feb 2017-

Ditulis untuk #1minggu1cerita

Advertisements
This entry was published on February 11, 2017 at 10:17 am. It’s filed under Uncategorized and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: