Juleha’s Story : ” Bu Ling-Ling “

5th Week #1minggu1cerita. Aheyy, ga terasa udah minggu kelima tanpa bolos nulis. 

Ada cerita apa dari Juleha pekan inih?

*****************************

” Mana yang namanya Juleha! Mana yg namanya Juleha, biar gw cekek klo kerjanya gak bener….!!!!”

Seorang wanita bermata sipit dengan rambut keriting dan poni disasak tinggi merangsek masuk ke kantor Juleha siang itu dengan suara menggelegar. Usianya sekitar 40 tahunan, namun kulitnya yg putih kontras dengan blouse katun hitam dan celana pendek selutut plus wedges unik membuatnya terlihat lebih muda dan enerjic dari yg seharusnya. Ah, sebut saja namanya Bu Ling-Ling. 

Juleha menarik nafas, ada apa lagi sih ini ya Allah … 

Pelan-pelan Juleha bangkit dari kursinya, ” Saya yg namanya Juleha Bu Ling-Ling…”

“Surat pengantar saya mana?” Tanya Bu Ling-Ling masih dengan suara 7 oktaf.

Juleha tersenyum, lalu menjawab tenang, ” Bu Ling-Ling, kan Bu Ling-Ling ndak lewat saya prosesnya, Ibu kan bypass langsung lewat Ibu Mei-Mei karena Ibu ndak perlu pakai persyaratan apapun…”

” Oh gitu?”, ujar Ibu Ling-Ling dengan wajah sedikit bingung

Juleha mengangguk sambil tersenyum.

” Lah Terus Mei-Mei nya kemana ? Ini sudah jam berapa? Masa’ udah jam 2 belum balik juga? ” Tanya Bu Ling-Ling lagi , kali ini nadanya sedikit melunak, tidak semenggelegar tadi. Entah kenapa Juleha menangkap semburat merah muda diwajah Ibu Ling-Ling, semacam malu, mungkin karena sadar  salah semprot orang.

Dengan tenang Juleha mengangguk, ” Baik Bu Ling-Ling, saya panggilkan dulu Bu Mei-Meinya yha….” Sambil mengisyaratkan Ibu tua itu untuk duduk di kursi dalam ruangan.

Berhubung Juls ndak punya nomor Bu Mei, dan dikarenakan Bu Mei tuh tipe staff yang super duper secret klo soal nomor HP, Juleha menelepon dan meminta bantuan temannya untuk memanggil Bu Mei agar segera kembali kekantor.

Tak lama kemudian, Bu Mei muncul dengan senyum riang. Menyalami dan menemui Bu Ling-Ling tanpa kendala berarti.

Tak lama setelah itu, Mamak Jolie masuk dengan gaya bibirnya yang ngetril sangking seringnya njulid, ” Bu Ling-Ling, itu loh yang namanya Juleha, kalo surat pengantar urusnya sama dia, lelet ya kerjanya, biar Bu, biar anaknya nanti saya yang bilangin klo Lelet kerjanya…”

Juleha memutar matanya, hmm… pantesan Bu Ling-Ling kayak macan lepas, ternyata… Ada Blower di mesin AHU, eh, ada provokator j.u.l.i.d dibelakangnya

Bu Ling-Ling tidak menggubris kehadiran Mamak Jolie.  Juleha pun sudah terlanjur  malas menimpali Mamak yang satu itu. Kertas kerjanya masih menunggu, daripada meladeni Mamak J.U.L.I.D, mendingan waktu berharganya dipakai untuk menyelesaikan pekerjaan saja.

Tak lama kemudian terdengar suara Bu Ling-Ling dengan nada kesal, ” Aduh, apa sih Jolieeeee, bawel banget kamu ini, yang lain aja pada kerja, kayaknya cuma kamu deh yang nggak ada kerjaan…!”

Juleha sejujurnya pengen ngakak, tapi ia hanya menatap kertas kerjanya di layar komputer dengan wajah datar. “Duh Gusti… Tadi aja main mau cekek orang sembarangan, untung hati eike ini made by Allah, cobaaaa made in China, kw berapa juga ga bakalan kuat … ” Juls bergumam sambil mengelus dada, beristighfar diam-diam.

***

Mungkin dari teman-teman pernah atau bahkan sering mengalami hal ini di lingkungan kerja. Menghadapi orang yang tiba-tiba masuk dengan kondisi kepala penuh emosional. Menuntut minta dilayani ( entah karena merasa memiliki wewenang lebih, princess syndrom, atau hal -hal lainnya). Satu hal pesen gw: 

Adalah bodoh klo kita sampai ikutan kepancing , apalagi sampai saling melontar kalimat dengan nada 7 oktaf satu sama lain. Emang nya konser lagu seriosa?

Iya, bisa jadi ternyata orang itu sebenarnya ndak niat melampiaskan amarah atau emosinya kekita, bisa jadi cuma karena ketemu orang julid yg jago ngompor terus emosinya jadi gak stabil. 

Orang yang emosinya sedang tinggi, biasanya ngawur. Dan kadang nggak begitu paham dengan apa yang dikeluarkan dari mulutnya sendiri.

” Tadi emang gw ngomong gitu ya?”

” Sorry deh, gw kepancing tadi…”

” Abis dia teriak teriak begitu, ya gw bales teriak juga lah…”

Well, emang sih, gw akuin, butuh ekstra sabar luar biasa bagi kita, buat ga kepancing untuk memberikan reaksi yang sama emosionalnya dengan yg kita terima. 

Karena orang cenderung ikut berteriak ketika diteriaki. Cenderung berlaku kasar ketika dikasari. Cenderung membalas jahat ketika dijahati.

Sabar….

Tarik nafas dalam-dalam.

Sebelum bicara, berpikirlah. 

Sulit? 

Iya, karena kita belum terbiasa.

Makanya…Yuk, mulai sekarang, 

Biasakan.

Biasakan diri kita supaya bisa lebih mikir sebelum menjawab, 

pastikan kalimat yg kita keluarkan memang ada faedahnya, bukan semata-mata asal njawab, asal pengen ngebales omongan si Budi, biar ndak kalah sama Si Badrun, biar bisa eksis didepan Si Munah.

Atau…

Situ lebih milih buat jadi manusia yang emosinya didahulukan?

Advertisements
This entry was published on February 20, 2017 at 5:53 am. It’s filed under Uncategorized and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: