Regret yang Gereget

Juleha men – tapping kartu Commuter nya di mesin tapping stasiun tujuan. Lampu tapping mesin tak menyala, entah hijau, entah merah, entah berfungsi atau tidak mesinnya.

Wajah-wajah gusar yang mengantri dibelakang Juleha mulai memancarkan aura gelapnya, Juleha mencoba tap lagi dengan kalem.

Tapi Gatot. Alias gagal total. Tak ada penjelasan apapun di mesin tapping .

Bapak dibelakang Juls mulai habis kesabaran. Ia berteriak, “Oi Mas! Mas! Sini Bantu mbaknya! ”

Duo Semriti yang asyik bicara soal harga cicilan motor keluaran terbaru, menengok dengan malas. Dengan ekspresi ‘Ah-ganggu-aja-lu’, semriti 1 mengeluarkan kartu saktinya, kartu khusus petugas yang berfungsi membantu penumpang bermasalah dengan tappingan kartu mereka.

Juls keluar melewati pintu tapping. Penasaran ia kenapa kartunya bermasalah. Maka ditap-kan lah kartu commuternya ke mesin pembaca saldo.

“Kartu perjalanan kadaluarsa, anda terkena pinalty”

Juleha menahan napas, ia menggerundel dengan bahasa jawanya, “what the hell is going on with my comm card? This is so ridiculous…”

Juleha pun mendatangi semriti 1 yang membantunya tadi. Meminta penjelasan.

“Mas, kok dibantu keluar sama mas malah jadi kena pinalti, bisa jelasin?”

Mas semriti 1 menghampiri Juleha, “iya, tadi kan mbak bermasalah, mbak nggak tapping kan tadi disana pas mau masuk stasiun?”

Darah Juleha mendadak naik perlahan ke leher. ” Klo ngomong yang benar Mas, saya nggak mungkin bisa naik kereta kalau nggak tapping di stasiun pemberangkatan.”

Dikata gw jinny oh jinny kali bisa tuing-tuing!

Semriti 1 tetep kekeuh, ” Iya, tadi kan mbak naik dari stasiun UI ngga tapping kan? ”

Darah Juleha naik lagi sampai ke telinga. “Mas nya klo mau kasih penjelasan itu yang benar dan jelas. Siapa yang bilang saya naik dari UI? Saya gak naik dari UI. Coba kasih penjelasan sama saya yg logis. Saya tadi tapping di st. Pemberangkatan itu lampunya Ijo loh mas pas tapping ga da masalah. ” Juleha menatap mata mas-mas semriti asal jeplak ini tepat dimatanya.

” Tadi mbak disana dibantu nggak pas masuk sama petugasnya?” Tanya semriti gugup.

“Tidak!” Sahut Juleha yang darahnya sudah sampai diubun-ubun.

Semriti itu menelan ludahnya demi melihat wajah Juleha yang mulai merah -kuning- kelabu- hijau muda dan biru lalu balik lagi ke warna aslinya yang kuning langsat. ( tapi jadi coklat karena kelamaan kena paparan  matahari ibukota. )

“Sini deh mbak, klo nggak percaya..” Begitu rajuk si semriti pada Juleha sambil mentapping kartu commuternya di mesin tap. Sepintas Juleha melihatnya, Tidak ada tulisan apapun disana. Semriti itu buru-buru menarik sambil mengoceh panjang lebar soal kartu kadaluarsa. Penjelasan yang mirip benang kusut. Tapi demi melihat usaha yang diberikan sang semriti untuk memberikan penjelasan maksimal padanya, Juleha luluh.

Juls mengintip jam tangannya. Sudah mepet waktu absensi kantor. Juleha memilih untuk mengalah. Toh tak ada gunanya jika debat ini diperpanjang. Semriti ini pun pasti minim pengetahuannya tentang sistem kartu commuter.

“Yasudah mas, thanks udah menjelaskan. Sini biar saya bayar pinaltinya. ”

Juls melangkah ke loket. Membayar pinaltinya. Tapi ia belum ikhlas. Pagi itu disela-sela kerjanya, ia curhat pada teman sesama pengguna commuter mengenai kejadian itu.

“Gw juga pernah kayak gitu, sering kali. Pertama gw kayak elo, maen panggil petugas. Tapi berikutnya gw lebih sabar. Gw nunggu beberapa orang lewat duluan. Gw tapping ulang. Dan bisa Juls… Tuh mesin udah pada lemot kali, kan sering diservice klo pagi – pagi, bikin antrian keluar makin panjang…”

Juleha menyimak.

“Gw juga pernah, abis ngisi kartu commuter, di tapping bilangnya kadaluarsa, sama kayak elo. Kan lucu! Masa baru diisi pas ditapping bilangnya kadaluarsa. Eh pas ditapping di mesin sebelahnye, bisa. Untung gw gak manggil petugas. Klo gak pasti gw dibilang kena pinalti.”

Juls meminum air putih di gelasnya sekaligus.

“Yaudah Juls, ikhlasin aje, pelajaran buat lu, klo kartu commet lu bermasalah, jangan buru-buru panggil petugas. R-u-g-i ”

Juls menarik senyum tipis di bibirnya, lalu bergumam ala-ala Raisa, ” Yaudahlah Yha….”

Memang benar kata orang, dalam keadaan apapun, sabar itu lebih baik…

Advertisements
This entry was published on March 13, 2017 at 1:07 pm. It’s filed under Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

One thought on “Regret yang Gereget

  1. Yupsss…. Benar…
    Yang sabar pasti mendapatkan yang terbaik…
    Meski sabar itu tak mudah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: