Biasakanlah biar terbiasa…( Bukan tentang lagu cinta )

Aku bisa membuatmu,

Jatuh cinta kepadaku,

Meski kau tak cinta~~ 

Kepadaku~~

Beri sedikit waktu ~~

Biar cinta datang karena telah

Terbiasa..~~

Yak, kira-kira begitulah lyric lagu yg dinyanyikan Once dalam grup Dewa yang kini entah kemana eksistensinya. Tapi bukan itu yang Juls mau ceritakeun, klo soal Grup Dewa biarlah mereka-mereka yang ahli musik sajah yang membahas yahh? Apalah arti Juls yang cuma bisa dengerin lagu dan nyanyi paling banter untuk skala kamar mandi.

*****

Amel masuk kedalam gerbong kereta commuter tujuan Bogor.

Adudududududududududuuduuuwwwwwhhhh…jam pulang kantor di hari weekday, manalah mungkin kereta lengang ya cyinnnnn… Aromanya pun beraneka rasa, mulai dari aroma parfum mevvvahhh sampai aroma vanelli fermentasi yg udah basi ada semua disitu. 

Amel menyelamatkan kemampuan sel-sel peka rangsang pada hidungnya dengan memakai masker.  Meskipun tidak menjamin bisa menghalau virus dan kuman-kuman terbang yang entah seberapa banyak penyebarannya dalam gerbong kereta ini, tapi setidaknya ia terselamatkan dari provokasi aroma-aroma tak sedap yg berbahaya bagi kondisi psikis maupun mental selama perjalanan.

Kereta perlahan bergerak menuju Bogor.

Semua stasiun tampaknya menjalin hubungan harmonis dengan Gerbong Kereta, karena buktinya,  tiap-tiap stasiun berbaik hati menambahkan penumpang ke dalam kereta. Kalau stasiun ma Gerbong bisa ngomong, mungkin inilah dialog yang terjadi :

Stasiun Cikini : Hai Gerbong, ini aku kasih isi buat perut kamu ya, biar kamu kuat sampai tujuan…

Gerbong : Aduh makasih Mas, saya jalan lagi ya…

Stasiun Manggarai : Hai Gerbong, Udah ini bawa aja semuanya… Buat oleh-oleh sekalian… 

Gerbong Kereta : Aduh, ga enak nih jadinya, makasih ya Akang Stasiun…

Stasiun Tebet : Eh, gerbong, sini mampir, saya ada banyak nih buat kamu..

Gerbong Kereta : Wah, makasih Mas, tadi di sana juga udah banyak dikasih… 

St. Tebet : wah… Masa yg lain diterima aku nggak, hayuklah ini bawa sekalian penumpangnya… Diabisin… Jangan sampai sisa… 

Dan terus seperti itu, sampai ke Bogor…

Amel terus saja asyik dengan imajinasinya, sampai seorang Ibu yang lagi Tekdung masuk kedalam gerbong kereta. 

Diliriknya bangku prioritas, penuh dengan sesama Ibu Tekdung, membuat raut wajah Ibu itu jadi Bingung.

Tapi rejeki Allah tak pernah tertukar, seorang Ibu muda sehat tiba-tiba saja berdiri, memberikan tempat duduknya pada si Ibu Tekdung tanpa diminta. Seperti seolah bangku itu memang menjadi haknya, si Ibu Tekdung pun duduk tanpa mengucap apa-apa, menoleh sedikit pun tidak…malah sibuk mengambil HP…atur posisi pe-we..

Hal itu rupanya menarik perhatian Ibu Tua yang sejak tadi berdiri disamping Amel, sejenak ia tersenyum penuh makna, dan berbicara lembut pada Ibu muda yang sedang Tekdung. 

” Mbak… Jangan lupa bilang terimakasih  sama Ibu yg sudah memberikan tempat duduk lho… ”

Ibu Tekdung itu terkesiap sejenak. Ah iya… Aku lupa… Mungkin begitu suara kecil dalam benaknya…

Ibu Tua yang berdiri itu melanjutkan bicaranya, ” Kita sering lupa berterimakasih untuk hal-hal sepele, sangking terbiasanya lupa sampai jadi kebiasaan..padahal banyak berkat yang kita terima dalam hidup… ”

Ibu Tekdung itu tersipu, diam-diam mengiyakan…

” Maaf ya mbak kalau jadi ceramah, maklum sudah tua.. sekalian ini biar ngajarin yg didalam perut juga, kalau ibunya biasa, nanti dedek bayinya juga biasa… ” ujar Ibu Tua itu masih dalam senyum-teduh-bijaknya…

Amel menyaksikan semua itu sambil mengangguk-angguk, 

Ya, 

Seberapa sering kita menganggap hal-hal yang biasa kita terima tanpa merasa perlu untuk berterimakasih? Tanpa perlu merasa untuk bersyukur? 

Seberapa nyamannya kehidupan kita sehingga kita sering menerima, malah mungkin tanpa perlu meminta dengan susah payah, sehingga lupa rasanya berjuang, lupa rasanya lega, lupa rasa berbagi, sehingga kita pun lupa untuk berterimakasih. 

Amel menatap Ibu Tua, Ibu Muda Sehat dan Ibu Tekdung dihadapannya sekali lagi. 

Hari ini, lagi-lagi sebuah pesan baik kembali ia dapatkan dalam sebuah perjalanan sederhana di gerbong kereta.

Amel bersyukur.

*****

Juleha menatap layar HP nya, bosan ia mengetik kata-kata.

Maka lagu Dewa kembali ia senandungkan, 

“Beri sedikit waktu~ biar cinta datang karena telah terbiasa ~~ ”

Di layar HP nya, sebuah gambar segi empat terpampang sederhana dengan kata-kata diatasnya : 

” Good Character is not build by a week or a month, it created little by little, day by day from your habit…we first make our habits, and then our habit make us”

Ditulis untuk semangat #1minggu1cerita

Advertisements
This entry was published on March 28, 2017 at 7:25 am. It’s filed under Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

3 thoughts on “Biasakanlah biar terbiasa…( Bukan tentang lagu cinta )

  1. Hahahha, paa dibuka dengan lirik lagu. Kirain bakal bahas lagu.

    Lucu juga imajinasi stasiun delan gerbong yang nngobrol, tapi lupa mungkin kalau gerbong juga kan ‘ngasih’ sesuatu k stasiun.

  2. Suka quote nya ,…then our habbits make us..:-)

  3. “Good Character is not build by a week or a month, it created little by little, day by day from your habit…we first make our habits, and then our habit make us”

    So true..catatan pengingat terutama buat para ortu 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: