Rindu

Rena tergopoh-gopoh menaiki tangga stasiun. Pintu Commuter tujuan Bogor sudah terlanjur ditutup. Usahanya berlari dari anak tangga pertama hingga anak tangga ke-30, sia-sia sudah…

Sibuk mengumpulkan oksigen, seseorang menghampiri Rena, dan dengan congkaknya berkata, ” Apa guwe bilangggg, ’emang lu yakin lu duluan yg selesai maghriban dan nunggu diperon atas?’ ”

Orang itu, sebut saja namanya Hakan. Tawanya terdengar amat sangat puas. 

Rena cuma diam sambil memutar bola matanya. Namun setelah nafasnya teratur, ia berkata, ” Gw klo deal-deal-an sama elo ga pernah menang… Selalu salah or kalah, herann…” Sungutnya sedikit sebal. Bibirnya manyun tiga senti.

” Gatau padahal, feeling gw pengen njawab aja tadi pas lu bilang mau nunggu diatas.. Bhahahahhaha…” Hakan lagi-lagi membanggakan kekuatan feelingnya.

” Kemampuan feeling lo itu, sebenernya berlaku untuk semua temen-temen lo, atau cuma ke gw aja lo jadi bener terus? ” tanya Rena penasaran. Entah sudah berapa kali Rena apes ketika Hakan mengajaknya tebak-tebakkan. Deal. Taruhan, or apapun itu. 

Hakan mengerutkan keningnya sesaat, ” Entahlah, tapi yang jelas klo sama elo gw nggak pernah salah…”, hidung Hakan kembang-kempis sangking bangganya.

“Well, mungkin hoki lu lebih besar daripada hoki gw…” Gumam Rena sembari memperhatikan papan LED scroller peron stasiun, dari papan informasi itu, Rena dan penumpang stasiun lainnya bisa mengetahui kalau kereta Bogor berikutnya sudah dekat.

Hakan mengangguk – angguk, “atau gw emang lebih keibuan daripada lo, jadi feeling gw bagaikan feeling seorang Ibu.”

“Preeettccuuuhhh…” Kali ini Rena gantian mencibir statement Hakan habis-habisan.

*****

” Ka Rena! ” terdengar suara perempuan memanggil Rena dari kejauhan. Rena mencari-cari arah datangnya suara. Ia tersenyum ketika mengenali wajah yang memanggil-manggilnya dari jauh.

” Tasya? Kirain kamu udah pulang duluan…” Ujar Rena dengan senyumnya yang kalem.

” Nggak Kak, mau maghriban di Stasiun dulu…” Sahut Tasya dengan wajah polos. ” Ka Rena maghriban dulu juga kan?”, Tanyanya.

Rena mengangguk, melepas sepatu dan masuk ke Mushala Stasiun.

Seusai Maghriban, Rena ke toilet sebentar. Dan bergegas keluar area Mushala. Dilihatnya rak sepatu, diintipnya dalam Mushala, Tasya sudah tidak ada. Ah… Bocah itu, pasti sudah duluan ngabur begitu selesai maghriban. 

Rena teringat pada sebuah kejadian, waktu itu pernah sekali Hakan selesai sholat lebih dulu daripada Rena di St. Pasar Minggu, Hakan menunggu didepan minimarket sambil merenung, begitu Rena selesai sholat, kebetulan kereta Bogor sudah tersedia. Mereka berlari-lari menyebrangi rel, waktu singgah kereta begitu mepet, Rena memutuskan naik di Gerbong Khusus Wanita, dan mengira Hakan yang jago nyelip juga masuk di gerbong campuran yang berada persis setelah gerbong khusus. 

Tapi ternyata ketika kereta sudah berjalan, sebuah WhatsApp masuk ke HP Rena, 

dari Hakan, 

sebuah pesan yang sungguh menyayat hati, dan membuat Rena merasa bersalah :

 ‘ Lu dimana Na?’

rupanya Hakan masih tertinggal di stasiun. 

*****

” Mbak, bisa kasih bangku untuk Ibu Hamil? ” tanya seorang Ibu pada penumpang yang duduk, Rena spontan berdiri. Memberikannya kepada yang lebih berhak.

Kereta terus melaju. Hujan deras dan view senja sepanjang perjalanan diluar kaca gerbong yang mulai samar menuju gelap tidak membuat para penumpang menghentikan kesibukkannya dengan gawai kesayangan mereka ditangan. 

Lagi-lagi Rena teringat dialog-dialognya yang nggak banget ketika pulang dengan Hakan. Senyum terukir sejenak di bibir mungilnya. Rena ingat betul, kalau pulang bareng Hakan, biasanya mahluk ajaib itu bakalan ngasih topik or curhat soal macem-macem. 

Tapi yang paling disukai Rena adalah topik yang ada kaitannya dengan pengetahuan, film, atau flashback soal masa kecil. 

Pengetahuan Hakan cukup luas, mulai dari agama, sosial, politik, sampai pengalaman cinta, Hakan amat sangat compatible klo diajak ngobrol. Kadang Rena sampai nggak enak hati untuk menyudahi pembicaraan karena ia harus turun lebih dulu. 

Rena rindu masa-masa itu. Masa dimana ia punya partner pulang kereta yang smooth talking, easy going, sekaligus punya prinsip agama yang flownya cukup compatible.

Teman pulang kereta mungkin banyak dan mudah dicari, tapi yang masih mikirin sholat disaat normalnya orang lain pengen buru-buru pulang? 

Mungkin bisa dihitung dengan jari. 

Rena butuh Teman yang seperti itu. Teman yang tulus. Teman yang nggak cuma bisa diajak melihat dunia, tapi juga bisa saling mengingatkan soal akhirat. Tanpa perlu sok ngatur, sok menjudge atau sok menggurui,atau sok care tapi berujung pada kepentingan lain. 

Yang membuat Rena nyaman berteman dengan Hakan meskipun Hakan laki-laki adalah, Hakan tidak pernah sedikitpun menyalahgunakan kedekatannya dengan Rena. 

Dan Rena salut akan hal itu.

“Stasiun Lenteng Agung” suara announcer informasi dalam gerbong membuyarkan renungan Rena.

Rena menarik nafas dalam-dalam. Ia harus bersiap-siap untuk turun di stasiun selanjutnya. Pelan-pelan Rena merangsek maju kedekat pintu kaca gerbong yang tertutup. Langit diluar sudah gelap. Bayangan wajahnya terpantul. 

Diam-diam berpikir, meski sekarang Hakan tidak lagi menjadi partner pulangnya, setidaknya ia sudah dipertemukan dengan Teman berkualitas seperti Hakan.

Rena bersyukur.

*****

Jakarta, Mei 2017

Ditulis untuk tema #Rindu, di semangat #1minggu1cerita

Advertisements
This entry was published on May 2, 2017 at 10:19 pm and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

2 thoughts on “Rindu

  1. Ya ampun temanya jadi cerpen. Niat banget, Kak. πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘

    Aku paling suka bagian ini, “Teman yang nggak cuma bisa diajak melihat dunia, tapi juga bisa saling mengingatkan soal akhirat.”

    Keep writing!
    http://www.iamandyna.com

  2. Bener mbak.. mostly pulang keretaan orang maunya buru buru aja.. seringkali mikirnya.. ah ntar aja solatnya sampe rumah.. ternyata keburu abis waktu nya :”). Anyway saya 8tahun commuterline-an masa gak pernah kenal ma siapapun.. sedih ya :((

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: