Kekinian & Budaya Konsumtif

Ramadhan sudah memasuki pertengahan menuju akhir.

Perubahan apa yang dirasakan di Ramadhan tahun ini?

Masihkah kita ribet mencari makanan buka yang ‘harus ada kolak’, ‘harus ada es campur’, ‘harus ada ini itu’ biar afdhol berbukanya, atau sudah mulai menerima,’asalkan ada segelas air putih rasanya cukup’ ( yang meskipun nantinya setelah magriban atau tarawihan dilanjut lagi ronde kedua :p )

Mendekati hari Raya, apalagi ketika THR sudah cair di H-14 Lebaran, apakah kita masih ribet mencari baju baru, hanya karena risih mendengar nyinyiran para tetangga dan handai taulan yang sudah biasa kepo dengan kehidupan kita dan asal bertanya,

” Baju barunya mana? ” ,

” aku udah beli baju kemarin di IG, bagus loh, kamu kayaknya mesti beli juga deh “,

” Brand yang itu cuco banget buat gaya lebaran kita nanti Ay, kita harus beli  biar lebaran kita hitz”

Yang kemudian membuat kita terprovokasi untuk ‘hijrah’ dari Masjid ke Mal dan Plaza,

Budaya Konsumtif 1

Merasa bahwa kalau kita ndak beli “itu” atau “ini”, berarti kita tidak kekinian, yang kemudian dapat berujung pada rasa terintimidasi, karena merasa bakalan jadi mahluk terrrrr-tjupu jika tak mengikuti arus budaya konsumtif menjelang hari Raya. ….ckckckck disini kadang saya setuju, kalo baperan itu ndak baik.

Budaya Konsumtif 2

Padahal nih ya klo boleh jujur, mungkin pakaian Lebaran tahun lalu pun sebenarnya masih ada yang belum terpakai hingga tahun ini. ( yang kemudian dikomentari lagi, ‘ Aduh,,,, baju tahun kemarin kan udah ga sesuai dengan style tahun ini…’ :p ) ….yahserahlodeh

*****

Ramadhan seharusnya membuat kita mengerti artinya sebuah kesederhanaan, mengerti artinya bersyukur meski situasi tak berlebihan.

Bukankah puasa sebenarnya adalah training tahunan kita untuk menahan nafsu? Bukankah Lebaran dan hari Raya Kemenangan ditujukan bagi mereka yang sanggup menahan diri? Lalu dimana esensinya Ramadhan dan Idul Fitri kalau kita masih terjebak dalam nafsu budaya konsumtif?

Dear sahabat,

Masih ada setengah bulan menuju hari Raya,

Arus Budaya Konsumtif bakalan semakin besar,

sanggupkah kita menahan diri?

Semoga.

Note : pic credit by google source

 

 

Advertisements
This entry was published on June 10, 2017 at 11:09 pm and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: