Ndephpunyacerita : Kebingungan membawa Dilan..

Pagi itu aku bingung.

Bingung karena sudah tiga minggu nggak nulis di Blog.

Makin bingung lagi klo teh Annil udah mulai ngumumin mo siap-siap ngekick member pasif dari grup 1minggu1cerita.

Pengen pegangan, tapi pas mo megang handel dalam commuter, ternyata semua udah kepegang ma penumpang yang lain, maklum, tinggiku ini memang 160cm, 

masa iya? *tanya seseorang tak yakin*

Doain. ehehehe. *CengarcengirPedePakeNadaDilan*

Setibanya dikantor, buyar sudah semua kata-kata yang udah kurangkai dengan baik untuk dituangkan ke dalam Blogku selama perjalanan. Padahal aku merangkainya sepenuh hati, biar kayak iklan komersial kecap yang berlambang burung itu. Lupa burung apa namanya. 

Saat dikantor itulah, salah satu officemate ku yang bernama mbak D, tiba-tiba menelepon dari mejanya yang cuma berjarak tiga langkah dariku. Aku menerimanya dengan resmi dan professional.

” Dengan Alyssa Soebandono,,, bisa dibantu? Ujarku penuh percaya diri. *sakarepmulahDepp

” Heh! Alyssa… Udah gak jadi Raisa?” Tanya mbak D, dari suaranya sih kelihatannya kek lagi nahan senyum.

” Nggak ah, Raisa belum pake hijab.. aku ngga mirip dia lagi.. ” Sahutku sedih. Padahal mo pake hijab pa nggak, Raisa juga nggak bakalan mirip sama aku. Orang benih yang membuat kami saja berbeda. *dankemudianterdengarlahsuaramendayudarijauh

 ” Halah.. emangnya ma Alyssa Soebandono lu mirip?” Tanya Mbak D lagi, aku mikir dulu sambil liat kaca, ya… nggak juga sih..tapi klo dilihat dari menara monas ke Jakarta Kota mungkin aja mirip, iyakan? cob… belum selesai otakku berpikir, mbak D langsung ngomong lagi, 

“Pulang nanti nonton Dilan yuk!”

Waduh, mendadak banget mbak D ini klo ngajakin jalan, ibarat hujan, nggak ada awan kelabu apalagi hujan rintik-rintik, sangking terkejutnya pengen banget aku bilang :

Aku, yang harga dirinya gampang anjlok kayak rupiah, langsung mengiyakan dengan begitu mudah, meskipun sedang dikejar dateline laporan, penuh keyakinan aku menjawab,” Iyeee, oke….”,

Sengaja kulakukan sambil melirik mejanya, berusaha memberi kepastian meskipun tak bertatap muka dengan benar. Sengaja juga kukeraskan suaraku, biar nelponnya berasa live gitu.

” Okesip, klo nggak hujan ye.. etapi dimana?” tanya mbak D lagi. Emang nih, temenku yang satu ini demokratis abis, dia yang mengajakku nonton, dia juga yang bertanya dimana mau nontonnya. Ingin kujawab nonton di Mars, tapi nggak tega ngebayangin mbak D pake baju astronot.

” Tempat biasa aja, biar gampang pulangnya..” sahutku sambil buru-buru menutup telepon. Soalnya barusan sekertaris proyek lagi-lagi membunyikan sirinenya. Lantang, padat dan jelas :

” Laporan harus disubmit sebelum jam 12 ya!”


*****

Setelah berjuang menyelesaikan laporan, naik kereta commuter di jam pulang yang sudah pasti uyel-uyelan, akhirnya Aku dan mbak D menjejakkan kaki di bioskop langganan. 

masih 1 jam lagi sebelum jadwal filmnya Dilan mulai, kami membeli tiketnya di counter tiket, dannnn sesuai dengan eskpetasi, bangku deretan nyaman sudah penuh sampai kedepan-depan, tinggallah bangku-bangku sisaan yang letaknya sporadis.

” Duduk didepan sini aja sampingan gimana?” tanyaku, menunjuk lokasi bangku yang terpampang nyata dilayar counter pemesanan tiket. 

Aku menunjuk deretan bangku paling depan. 

” Ogah! leher gue sakit ntar, udah ditengah aja tuh depan belakang..,” sahut mbak D.

” Mana seru nonton duduknya misah gitu?” jawabku deg-degan, baru kali ini aku diajakin nonton di bioskop, tapi duduknya mau beda-beda kursi begini. Mbak D ini memang kelakuannya kadang ajaib tenan..

” Gue gak mau klo paling depan.” sahut mbak D tegas. Berhubung klo kubatalin bakal makin kacau, yaudah aku pasrah dengan keputusan mbak D untuk berpisah dariku. Soal harta gono gini dan lain sebagainya, aku gak sempat pikirin. Bodo amat. Laiya, orang ini cuma pisah tempat duduk aja kok. *emangnya yang daritadi minta ngebahas beginian siapa Depp, siapeee…!!

Sambil menunggu mbak D yang menunaikan ibadah maghrib. Pikiranku berkecamuk didalam.

Bagaimana kalau Dilan ini ternyata filmnya biasa saja? Bagaimana kalau sebelahku itu mas-mas bau ketek yang belum mengenal peradaban modern bernama deodorant? Bagaimana klo sebelahku itu ternyata manten baru kawin dan lagi mesum-mesumnya? Duh… apakah keputusanku ini salah ya Rabb? Seharusnya tadi aku baca doa dulu, atau sholat istikharah, “Ya Allah kalau ini baik untukku maka dekatkanlah.. jika buruk untukku maka jauhkanlah…”. Tapi lupa, soalnya udah terlanjur sumringah waktu diajakin nonton dadakan. Beginilah ketika hati manusia dikuasai nafsu. Jama’ah~ Oh… Jama’ah.

Sangking galaunya, aku mencoba menenangkan diri dengan nyemil burger chicken dari XXI cafe, sekalian sambil selonjoran di koridor untuk meredakan kegalauan. 

Alhamdulillah, setelah semua roti itu masuk kedalam perut, kegalauan ku menghilang secara paripurna. Rupanya aku cuma lapar. Bukan galau. Untung aku sudah keburu makan sebelum berubah jadi Hulk.

Tak lama kemudian pintu teater dibuka, “Kepada yang memiliki karcis, dipersilahkan masuk…”, Gitu kata mbak-mbak Announcernya, perhatian banget dia, tau aja dia kalau kita sudah punya karcis nonton, sukak aku, itulah sebabnya aku gak mau membuat dia repot, bersama mbak D, aku langsung masuk kedalam teater.

Didalam teater, lampu perlahan dipadamkan, entah sudah berapa iklan diputar, dan akhirnya wajah Iqbaal muncul dilayar. Dia berkata dengan matanya yang kelihatan sesekali ngintip teks,” Hai teman teman semua… makasih ya udah nonton Dilan hari ini..” 

Biar keliatan lagi baca teks begitu, Aku terharu. 

Benar-benar terharu. 

Cuma gegara nggak bisa nonton bareng sama Aku, Iqbal mpe ngirimin video yang dilihat satu teater. Detik itu juga, hatiku bergetar, kuakui dia memang romantis. Tapi aku belum mencintainya waktu itu, gatau klo filmnya abis. *lhah,sadar umur woyy, sadaaaarrrr!!

Selama film diputar, Aku makin yakin kalau Iqbal ini romantis dan jago acting. Karakter Dilan begitu melebur dalam dirinya. Ekspresi nya saat memberikan video message, jadi sangat jauh berbeda saat Iqbal berperan menjadi Dilan. Sulit sekali loh untuk memerankan Dilan tanpa kesan dibuat-buat. Dialog dan gaya bahasanya sangat baku. Ini membuatku semakin curiga, apakah J.S Badudu adalah panutan Dilan pada masa itu.

Namun dibalik semua kekakuan dan kebakuan dialog itu, Iqbal mampu memerankannya dengan amat sangat Acceptable. Begitu juga dengan Vaness yang berperan menjadi Milea. Vanes yang asli kan punya aura yang sangat kekinian, dia remaja yang kuat. Tapi dia bisa berbeda gitu pas jadi Milea. Dia mampu menjadi sosok gadis SMA yg naif dan lemah, yang nangis sambil lari-lari ketika dicaci maki dan ditampar teman laki-lakinya. Tapi itu cuma bisa terjadi dulu, tahun 1990, Coba klo Milea 2018, abis dikatain gak bener begitu, yang ada pasti langsung nuntut balik atas tuduhan perbuatan yang tidak menyenangkan. Bukan gak mungkin kasusnya jadi viral. Jangankan orang memaki, ada orang ketiduran di bangku prioritas kereta aja, sekarang bisa jadi cerita viral, apalagi klo ada-cewek-cantik-macem-milea-ditampar-didepan-stasiun-tv. 

Di adegan pembuka, Milea langsung diberondong rayuan maut Dilan yang lagi naik motor, 

” Pagi, kamu Milea ya?”, gitu kata Dilan di film, kupikir Milea bakal ngejawab, “Kok tau? Kamu mau ngegombal yhaaa..”, Eh, ternyata beneran Mileanya digombalin ma Dilan. Lebih nggilani malah.. 

” Aku ramal nanti siang kita akan bertemu di Kantingitu kata Dilan sebelum berlalu ninggalin Milea. Tengil memang, Tapi Milea suka, aku juga. 

dan cewek – cewek lain juga suka pastinya. 

karena cewek rata-rata hampir sama, sama-sama suka digombali. 

*****

Klo boleh jujur sebenarnya film Dilan ini film yang ngajakin kita nostalgia, dan ngajarin kita ilmu nge-gombal. Aku juga bingung awalnya, dimana point pentingnya yang bisa bikin film ini jadi sukses. Tapi setelah nonton 2 kali, ( Iya, duakali !!!, dan dua kali juga aku digombalin sama Dilan lewat film…) akhirnya aku ngerti. Klo Iqbal lah yg bikin film ini jadi begitu digandrungi. Iya, coba klo bukan dia yang jadi Dilan, mungkin nggak bakal banyak orang yang kesengsem ma Dilan. 

Senyumnya ituloh..

šŸ“·: https://www.instagram.com/p/BWpd7PSg8rp/
šŸ“·: https://www.instagram.com/p/BWpd7PSg8rp/

Sama kayak waktu NicSap jadi Rangga, peleburan karakternya begitu kuat, mau 10 tahun berlalu, AADC nggak mungkin bakalan terkenang klo bukan NicSap dan Distro yang main. 

Satu-satunya yang mengganggu banget di film Dilan 1990 ini adalah ketika bundanya Dilan nyetir mobil dari sekolah sama Milea. Katro bener ituh, kenapa adegannya mesti diedit sih.. Aku ndak suka, semoga aja sutradaranya or produsernya baca blog aku ini, jadi nanti pas buat Dilan 1991, ndak ada edit-editan katrok begitu. *emang kamu siapa Depp minta dibaca blognya ma sutradara..

Oh iya, hal lain yang juga mengganggu adalah film ini ceritanya manis terus, kalopun berantem itu nggak konflik-konflik amat. Namanya juga masih SMA, tahun 1990, kayaknya masalah yang paling sulit dalam hidup saat itu bagi orang seusia Dilan adalah diputusin pacar dan masuk ujian universitas negeri.. aku juga gak tau pasti permasalahan pelik apa yang mungkin terjadi di tahun segitu, waktu itu paling banter masalahku adalah nangis klo gak bisa nyusu, soalnya umur segitu aku baru setahun, belum ada masalah berarti dalam hidup, nggak kayak sekarang, napas aja sulit, tapi bukan karena kebanyakan masalah ya, ini karena kebanyakan lemak yang mulai berkumpul di perut. *spontanngelusngelusperutdenganpandangannanar

Sangking penasaran karena ngga ada konflik di film, aku jadi bela-belain baca novelnya, ndak taunya.. 

Novelnya.. 

Novelnya….

Berakhir sangat memilukan. 

Tapi aku nggak akan bahas novelnya lebih dalam disini. Kalian aja yang beli dan baca sendiri. Enak aja mau denger cerita novel Dilan dari ceritaku. Kasihan Pak Pidi Baiq klo novelnya aku ceritain disini. 

Nah, jadi segitu aja dulu ceritaku tentang nonton film Dilan yang ke-mashyurannya sampai ke pelosok negeri. 

Kebingunganku dipagi hari, ternyata membawaku ke Dilan, dan menjadi cerita abstrak seperti ini.

Sampai jumpa dicerita unfaedah lainnya.

Salam Blogger,

-Jakarta 19 Februari 2018-

Published by ayudevistory

Happy girl in a Happy world

2 thoughts on “Ndephpunyacerita : Kebingungan membawa Dilan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: