When The Camelia Bloom (2019) : Makanya Jangan Usil!

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Chingudeul kesayangannnn!!! ( Semangat cerita 45! )

Apakabarnya semua? Semoga selalu sehat ya, biar kita bisa seru-seruan bareng bahas Drama Korea, biar bisa nonton marathon drama yg udah ketinggalan…

*bisikan sesat,abaikan…abaikan…*

Nah, kali ini Ayu mau bahas Drama Korea Keluarga, yang mungkin Chingudeul udah tamatin juga, itu loh dramanya Gong Hyo Jin : When The Camelia Bloom

Langsung aja nih ya, menurut Ayu, drama ini punya banyak pesan yang membuat hati berkesan. Banyak adegan yang menghangatkan jiwa. Waktu awal-awal nonton drama ini, Ayu pikir ini drama thriller-romance. Tapi ternyata ada misterinya juga, ada kisah haru keluarga dan persahabatan juga, Bener-bener komplit!

Waktu tau kalau drama ini bakal jadi drama 40 episode. Sempet ngerasa males juga sih, kayak, “bakal ngebosenin nggak ya?” Tapi ternyata nggak sama sekali tuh! Ga terasa malah kalau tau-tau udah 40 episode. Abis disetiap episode, penulis naskah dan sutradara benar-benar pintar menyelipkan misteri dalam setiap tayangan. Jadinya penasaran terus. Makin seneng lagi dengan ending yang memuaskan jadi nya puas gitu deh! Ehehe.

Nah, ada beberapa pesan yang bisa Chingudeul ambil dari drama WTCB ini, seperti :

1. Gak Semua Yang Terlihat itu seperti yang kalian duga…

Waktu Dongbaek datang, semua orang di lingkungan baru mengira Ia seorang Gadis Muda yang akan membuka usaha jual beli karangan bunga. Semua Ibu-ibu merasa terancam karena kecantikannya! Tapi mereka berbalik mengasihaninya karena ternyata Dongbaek adalah seorang Ibu Tunggal, dan mereka malah sempat menentang Dongbaek juga karena ternyata ia membuka usaha Bar!

Seiring berjalannya waktu, Ibu-ibu riweuh komplek mulai memahami bahwa usahanya bukanlah Bar ++ seperti yang biasa ada di seantero Korsel. Tapi Bar ala Cafe, dimana semua pelanggan bisa bertemu, ngobrol, dan curhat dengan teman-teman mereka tanpa melewati batas.

2. Paradigma bisa diubah dengan perbuatan baik.

Dongbaek sering sekali diremehkan oleh para tetangga karena hidupnya yang dianggap malang oleh orang-orang. Padahal sih, Dongbaek sebenarnya merasa hidupnya nggak bermasalah. Yang bermasalah? yi piri titingginyiii~~

Dongbaek tidak pernah dendam, meski ia ditinggalkan Ibunya waktu berumur 7 Tahun. Ia tidak pernah takut, meski ia menjadi saksi tunggal sebuah peristiwa pembunuhan berantai. Ia tidak pernah minder, meski Ibu pacarnya tidak merestui hubungannya karena ia punya latar belakang keluarga yang tak jelas. Satu-satunya masalah yang sering ia temui dalam hidupnya adalah dari paradigma orang-orang yang tinggal disekitarnya.

Tapi… Tapiii ya Yeorobunnn, Chingudeul tersayang, Sahabat-sahabat K-drama lovers se-Endonesahhh, camkan ini baik baik : betapapun julidnya para tetangga, betapapunnnnnnn kejamnya hidup, Dongbaek selalu baik kepada tetangganya.

Ia tak pernah membalas mereka dengan kejulidan yang sama kecuali ketika mereka sudah melanggar batas. Boleh jadi Dongbaek akan menunjukkan amarah ketika Tetangga mulai usil dengan urusan pribadinya, tapi setelah selesai menjelaskan, esoknya ia akan berjalan di lingkungan rumahnya dan menyapa para tetangga satu persatu dengan ramah seolah mereka tak pernah melakukan apa-apa kepadanya.

Dongbaek mungkin menggumamkan ini sambil berjalan, ” Well, Im mad at All-of-You yesterday, but this day is a new day, so let’s be a better person babe! Why sooo Grumpyy…?”

3. Bae-bae punya mulut…

Pengusil melakukan tindakan kejahatan karena sering sekali diremehkan oleh orang-orang setelah Ia selesai mengerjakan pekerjaan untuk mereka.

Perhatiin deh semua korban pengusil baik-baik, mereka yang tidak bisa menjaga perkataan dan bahasa tubuh nya sehingga menyinggung perasaan akhirmya dihabisi tanpa ampun oleh Pengusil.

Wanita yg meminta bantuan Pengusil untuk memperbaiki pipa air dibunuh karena Ia tidak bisa menahan dirinya untuk langsung mengelap jejak kaki Pengusil yang kotor. Bahkan dengan sombong wanita itu berkata, ” Kenapa? kamu gakkk suuka? Kamu kan saya bayyyyar.”

Wow! Yah, gak heran sih, banyak manusia jaman now yang merasa superior, bisa njeplak dan memperlakukan orang lain seenaknya hanya karena mereka dikasih kemampuan untuk membayar kebaikan orang lain..

Mentang-mentang sanggup bayarrrr jadi lupa memanusiakan manusia lain..

Nah, itu dia pesan-pesan yang bisa diambil dari drama When The Camelia Bloom. Klo Chingudeul sendiri gimana? masih suka ‘usil’ ngga sama kehidupan manusia lain?

Published by ayudevistory

Happy girl in a Happy world

%d bloggers like this: