Juleha’s Thought : Belajar

” Pak Minceu, data buat hari ini mana? ” Ujar Bu Ling-Ling disuatu pagi hari yang cerah ceria.

Tanpa merasa berdosa, Pak Minceu cuma nyengir selaw sambil bilang : ” Ini lagi dikerjain kok Bu… ”

Bu Ling-Ling yang warna lipstiknya pink nude seketika berubah jadi fuschia keunguan, hadehhh… gimana ngga berubah warna, data yg diminta Bu Ling-Ling ini sudah dari dua hari lalu dikomunikasikan ke Pak Minceu. Tapi emang Pak Minceunya aja yg ndablek.

Kali lain Pak Minceu diminta Bapak Besar untuk membuat file yang terkait dengan pekerjaannya. Tapi Pak Minceu malah terlihat bingung, udah gitu nggak mau nanya pula, malah asyik ngurusin hal lain dulu yang gak begitu urgent. Sampai akhirnya Bapak Besar kesal dan berkomentar tanpa tedeng aling-aling didepan Pak Minceu, ” Kamu tuh klo gabisa, bilang……, minimal respon atau cari informasi kek, bukannya diem, jadi saya gak buang-buang waktu seperti ini Minceu… ” , meskipun kata-kata marahnya Bapak masih tergolong sopan, tapi dengan berkas yang diayun-ayunkan ke arah muka Pak Minceu, sudah cukup menjelaskan betapa kesalnya Bapak Besar dengan kinerja Pak Minceu.

*****

Suatu hari karena kasihan melihat Pak Minceu yang sudah terlalu sering diomeli, Juleha berinisiatif untuk membantu Pak Minceu, Juleha juga mengkomunikasikan hal tersebut kepada teman-teman yang lain agar sebisanya membantu Pak Minceu jika ada kesulitan. Tapi sayang, Pak Minceu bukannya berubah menjadi lebih baik, malah seolah terlena dengan bantuan Leha. Jika pekerjaan Pak Minceu dipuji, dengan senang hati Pak Minceu menerima pujian itu seolah-olah memang dialah yang mengerjakan tugas itu sendirian. Leha cuma tersenyum tipis melihat kelakuan Pak Minceu. Maklum, namanya juga orangtua. Begitu pikir Leha.

Hingga suatu hari, Pak Minceu bersungut-sungut karena mendadak diomeli Bapak Besar lagi, Pak Minceu juga menyalahkan Leha karena tidak mengingatkan dia untuk mengerjakan proyek yang diminta Bapak Besar. Leha yang selama ini sudah sabar akhirnya nyeletuk sangking gemasnya dengan kelakuan Pak Minceu, ” Yeeeee, kenapa jadi salahin saya, kerjaan kan kerjaan Bapak, kenapa jadi bergantung dan nyalahin Saya? Kalau mau sini… gaji Bapak di sharing sama saya sekalian, jangan beban kerjanya doang yg disharing… ” Ujar Leha dengan muka kalemnya tanpa beranjak dari depan layar komputernya.

Semenjak itu Leha cuek bebek. Meski ia melihat Pak Minceu kebingungan, ia belajar untuk bodo amat. Toh beban kerjanya sendiri juga sebenarnya banyak. Ia membantu Pak Minceu cuma karena kasihan. Lagipula teman-teman lain sepertinya masih mau membantu Pak Minceu. Namun, karena tabiat Pak Minceu yang tidak kunjung berubah, Teman-teman lain akhirnya juga merasakan apa yang Leha rasakan. Mereka mulai illfeel membantu Pak Minceu. Sebenarnya pekerjaan Pak Minceu ini bukan pekerjaan yang berat dan seharusnya bisa dihandle oleh Pak Minceu sendiri, cuma karena Pak Minceu ini memang dasarnya tidak kompeten, ditambah tidak mau belajar dan berubah mengikuti zaman, Pak Minceu pun makin ketinggalan. Tambah lagi tabiatnya yg agak bossy dan pola pikirnya yang nyeleneh.

Hingga akhirnya awal tahun ini Pak Minceu mendapat surat penilaian kinerja dari bagian personalia. Nilainya jelas. Nilai yang lebih mirip peringatan bahwa kemungkinan ia harus hengkang dari perusahaan jika tahun depan kinerjanya masih belum berubah.

Leha yang mengetahui hasil penilaian Pak Minceu sebenarnya merasa kasihan. Tapi ini kan kantor, memang tempat yang dibuat untuk manusia bekerja, kalaupun sambil belajar, metodenya tidak sama dengan sekolah yang harus dibimbing dan diingatkan terus menerus oleh seorang mentor. ‘Belajar’ yang dimaksud di perusahaan itu lebih ke belajar dengan metode otodidak. Berusaha memahami sesuatu dari catatan atau file-file terdahulu, Belajar dari S.O.P yang ada, Belajar dari alur kebijakan wewenang yang tertulis di perusahaan. Kalaupum tidak ada secara tertulis, bisa bertanya ke sesama bagian yang berada di proyek lain karena case yang dihadapi saat bekerja itu kurang lebih sama. Seandainya stuck banget karena dari berbagai sumber tidak ada jawaban dan titik terang atau mungkin wewenangnya melebihi jangkauan pekerjaan kita, barulah kita bertanya ke atasan, supaya pekerjaan tersebut bisa dihandle dengan penyelesaian yang tepat.

Sayangnya, tidak semua pekerja punya pola pikir seperti ini. Ada yang kadang sudah bekerja bertahun-tahun, tapi S.O.P dasar yang dikerjakan secara harian saja masih suka bertanya ke rekan kerja, atau malah nanya ke atasan.

Ada juga yang mesti dikasih perintah, dikasih komando dulu, baru dikerjakan, padahal jelas-jelas itu adalah ‘wilayah kerja’ nya.

Leha kadang suka geleng-geleng kepala melihat kelakuan rekan-rekan kerjanya. Terutama Pak Minceu. Meskipun sebal, Leha juga merasa kasihan. Sebab, biar bagaimanapun Pak Minceu kan juga seorang kepala keluarga. Ada Istri dan Anak yang pastinya harus ia nafkahi. Tapi kalau Pak Minceu tidak berubah, maka ia harus siap menerima resikonya.

Juleha menarik nafas dalam-dalam, hari ini ia seperti diingatkan kembali lewat orang lain. Bahwa tidak ada yang abadi di Dunia ini, bahwa setelah lulus dari kuliah dan bahkan setelah mendapatkan tempat untuk bekerja , Ia masih harus tetap belajar. Bukan hanya dia sih, tapi semua, semua manusia di dunia. Semua harus terus belajar.

Belajar menghadapi perubahan,
Belajar mengeskplorasi potensi diri yang belum pernah ia duga bisa ia lakukan.

Sampai nanti, semua nafas habis dan Allah memanggil kita untuk pulang.

Published by ayudevistory

Happy girl in a Happy world

%d bloggers like this: